Bagus PutraVIEW PROFILE →
GoTo akhirnya untung: bagaimana super-app kebanggaan Indonesia berbalik ke laba di 2026
Setelah bertahun-tahun merugi, GoTo mencatat laba bersih pertama sepanjang sejarahnya. Dengan pendapatan naik 28 persen dan 71 juta pengguna, raksasa Gojek dan Tokopedia membuktikan model bisnisnya bisa berkelanjutan.
Dari bakar uang ke cetak laba
Selama bertahun-tahun, kisah GoTo, perusahaan induk dari Gojek dan Tokopedia, hampir selalu identik dengan istilah bakar uang. Layaknya banyak raksasa teknologi lain di dunia, perusahaan ini tumbuh sangat pesat dengan mengandalkan subsidi besar-besaran, sambil terus mencatatkan kerugian demi merebut pangsa pasar yang lebih luas di Indonesia.
Namun tahun 2026 menandai sebuah titik balik yang benar-benar bersejarah. Untuk pertama kalinya, salah satu perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara ini berhasil membuktikan bahwa model bisnisnya tidak hanya soal pertumbuhan semata, tetapi juga mampu menghasilkan keuntungan yang nyata dan berkelanjutan bagi para pemegang sahamnya.
Angka-angka yang berbicara

Pencapaian penting ini terlihat sangat jelas dari laporan keuangannya. Sepanjang paruh pertama tahun 2026, GoTo membukukan laba bersih sebesar Rp607,48 miliar, sebuah pembalikan yang cukup drastis dari kerugian bersih sebesar Rp580,01 miliar yang sempat dicatatkan pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Perjalanan menuju laba ini terjadi secara bertahap namun sangat konsisten. Pada kuartal pertama 2026, perusahaan mencetak laba bersih kuartalan pertama sepanjang sejarahnya senilai Rp171 miliar, membalikkan kerugian sebesar Rp367 miliar dari tahun sebelumnya, sebuah tonggak pencapaian yang sangat penting bagi perusahaan.
Momentum positif itu kemudian terus berlanjut ke kuartal berikutnya. Pada kuartal kedua 2026, GoTo kembali meraih laba bersih sebesar Rp252 miliar, sekaligus menandai kuartal kedua berturut-turut yang menguntungkan dan mencatat pertumbuhan sebesar 47 persen jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan yang sehat
Yang membuat pencapaian ini semakin meyakinkan adalah kenyataan bahwa laba tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang kuat, dan bukan sekadar hasil dari pemangkasan biaya semata. Pendapatan bersih perusahaan tercatat mencapai Rp10,99 triliun, melonjak sebesar 28,45 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kontribusi terhadap kinerja itu datang dari berbagai lini bisnis inti perusahaan. Layanan pengantaran menyumbang pendapatan sebesar Rp3,2 triliun, atau naik 16,48 persen secara tahunan, sementara pendapatan dari biaya layanan turut memberikan kontribusi yang signifikan senilai Rp3,15 triliun bagi kinerja keseluruhan.
Indikator kesehatan bisnis lainnya juga menunjukkan tren yang sangat positif dan menggembirakan. EBITDA yang telah disesuaikan untuk seluruh grup tercatat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, menembus angka lebih dari Rp1 triliun, sebuah sinyal yang kuat tentang membaiknya efisiensi operasional.
Puluhan juta pengguna setia
Di balik semua angka keuangan yang mengesankan tersebut, ada basis pengguna yang terus membesar secara stabil. Jumlah pengguna yang bertransaksi secara tahunan meningkat sebesar 19 persen, sehingga totalnya kini mencapai 71 juta orang, sebuah angka yang mencerminkan betapa dalamnya penetrasi layanan ini di tengah masyarakat.
Angka ini tentu saja bukan sekadar statistik belaka di atas kertas. Ia menunjukkan bahwa jutaan warga Indonesia telah menjadikan layanan GoTo, mulai dari memesan transportasi, memesan makanan, hingga berbelanja dan bertransaksi secara digital, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka.
Loyalitas pengguna inilah yang justru menjadi fondasi paling berharga bagi perusahaan ke depan. Dengan ekosistem yang saling terhubung erat, GoTo mampu mempertahankan para pelanggannya dalam satu lingkaran layanan, sehingga setiap pengguna berpotensi memberikan nilai yang jauh lebih besar dari waktu ke waktu.
Apa artinya bagi masa depan
Keberhasilan GoTo mencetak laba memiliki makna yang jauh melampaui satu perusahaan saja. Ia menjadi bukti penting bagi seluruh ekosistem startup di kawasan Asia Tenggara bahwa model super-app yang selama ini banyak diragukan, ternyata pada akhirnya bisa berujung pada profitabilitas yang benar-benar nyata.
Tentu saja, berbagai tantangan ke depan tetap tidak akan ringan. Persaingan di sektor transportasi daring, pengantaran, dan perdagangan elektronik masih sangat ketat, sehingga GoTo harus terus berinovasi tanpa henti agar tren keuntungan yang baru saja diraih ini dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Namun untuk saat ini, pesan yang disampaikan sudah cukup jelas dan terdengar kuat. Setelah bertahun-tahun berinvestasi dan bersabar menahan kerugian, kebanggaan teknologi Indonesia ini akhirnya membuktikan bahwa jalan panjang menuju profitabilitas, meski melelahkan, pada akhirnya memang bisa dilalui dengan sukses.






