Bagus PutraVIEW PROFILE →
Batam Jadi Pusat AI Global: Nvidia dan Firmus Bangun Pusat Data Raksasa Berisi 170.000 Chip
Indonesia bersiap menjadi salah satu pusat infrastruktur kecerdasan buatan dunia. Di Batam, kolaborasi antara Nvidia, Firmus Technologies, dan DayOne akan menghadirkan pusat data AI raksasa dengan 170.000 chip serta nilai kesepakatan mencapai puluhan miliar dolar.
Indonesia semakin serius dalam upayanya menjadi salah satu pusat infrastruktur kecerdasan buatan dunia. Kawasan Batam di Kepulauan Riau kini menjadi sorotan utama, seiring dengan rencana pembangunan pusat data kecerdasan buatan berskala raksasa. Proyek ambisius ini melibatkan sejumlah nama besar di industri teknologi global dan diproyeksikan mengubah lanskap ekonomi digital nasional secara signifikan.
Proyek raksasa di Kawasan Batam
Proyek yang diberi nama kampus Nvidia DSX AI Factory ini merupakan hasil kolaborasi tiga entitas besar. Perusahaan asal Australia, Firmus Technologies, bekerja sama dengan raksasa pembuat chip asal Amerika Serikat, Nvidia, serta perusahaan asal Singapura, DayOne. Pengumuman mengenai proyek strategis ini disampaikan pada hari Senin, 29 Juni 2026, dan langsung menarik perhatian luas.
Dari sisi teknis, fasilitas pusat data ini dirancang dengan kapasitas yang sangat besar, yakni mencapai 360 megawatt. Kemitraan antara ketiga perusahaan tersebut direncanakan berlangsung selama delapan tahun ke depan. Adapun target operasional dari fasilitas canggih ini ditetapkan pada kuartal pertama tahun 2027, sebuah tenggat waktu yang menunjukkan keseriusan dan kecepatan eksekusi proyek.
170 ribu chip AI Nvidia

Salah satu aspek paling mencolok dari proyek ini adalah jumlah perangkat keras yang akan digunakan. Direncanakan sebanyak 170.000 chip akselerator kecerdasan buatan buatan Nvidia akan ditempatkan di fasilitas ini, dengan pengadaan yang dijadwalkan berlangsung sepanjang periode 2027 hingga 2028. Angka ini menempatkan Batam pada peta global sebagai lokasi komputasi berkinerja tinggi yang sangat penting.
Nilai ekonomi dari kesepakatan ini juga sangat fantastis. Berdasarkan perjanjian pembelian yang mencakup enam tahun pertama masa operasional, nilai transaksinya diperkirakan mencapai kisaran 25 hingga 30 miliar dolar Amerika Serikat. Jika dikonversi ke dalam mata uang rupiah, angka tersebut setara dengan sekitar 448 triliun hingga 557 triliun rupiah, sebuah suntikan modal yang luar biasa besar.
Pihak otoritas setempat menyambut baik kehadiran proyek ini dengan penuh optimisme. Li Claudia Chandra, yang menjabat sebagai Wakil Kepala BP Batam, menegaskan bahwa kehadiran Firmus Technologies bersama Nvidia dan DayOne di Batam menjadi bukti nyata. Menurutnya, kawasan ini telah siap bertransformasi menjadi pusat infrastruktur kecerdasan buatan yang berskala global dan diperhitungkan dunia.
Kapasitas nasional melonjak drastis
Proyek di Batam ini merupakan bagian dari gelombang investasi yang jauh lebih besar di tingkat nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa kapasitas pusat data yang terpasang di Indonesia saat ini setara dengan 580 megawatt. Angka ini menjadi titik awal bagi lonjakan kapasitas yang sangat besar di masa mendatang seiring masuknya investasi baru.
Menurut Airlangga, terdapat proyek-proyek dalam jalur perencanaan atau pipeline dengan kapasitas tambahan yang setara dengan 1,3 gigawatt. Dengan demikian, jika seluruh proyek ini terealisasi, total kapasitas pusat data di Indonesia berpotensi mencapai sekitar 1,88 gigawatt. Ini menandakan pertumbuhan lebih dari tiga kali lipat dari kapasitas yang beroperasi pada saat ini.
Dari sisi pendanaan, khusus untuk proyek di Batam, nilai investasi yang telah masuk ke dalam pipeline diperkirakan berada di kisaran 15 hingga 20 miliar dolar Amerika Serikat. Sebagai gambaran mengenai skala biayanya, pembangunan pusat data ini membutuhkan biaya sekitar satu juta dolar untuk setiap megawatt kapasitas yang dibangun, mencerminkan padatnya modal di sektor ini.
Infrastruktur pendukung yang vital
Untuk mendukung operasional pusat data yang sangat bergantung pada konektivitas, infrastruktur pendukung juga disiapkan dengan matang. Pemerintah menyiapkan jalur koneksi kabel serat optik yang menghubungkan Batam langsung dengan Singapura. Selain itu, terdapat pula jalur koneksi lain yang menghubungkan Bitung di Sulawesi Utara langsung menuju Amerika Serikat, memperkuat jaringan global.
Selain proyek di Batam, geliat investasi teknologi juga terlihat di berbagai wilayah lain di Indonesia. Nvidia yang menggandeng perusahaan asal Australia, bersama sejumlah perusahaan teknologi raksasa lainnya, dilaporkan juga melakukan ekspansi di kawasan Karawang. Kehadiran perusahaan telekomunikasi nasional seperti Telkom turut memperkuat ekosistem digital yang sedang tumbuh pesat di Tanah Air ini.
Secara keseluruhan, deretan proyek raksasa ini menempatkan Indonesia pada posisi yang semakin strategis dalam peta persaingan kecerdasan buatan global. Dengan lonjakan kapasitas pusat data, masuknya teknologi chip tercanggih dari Nvidia, serta dukungan infrastruktur konektivitas yang kuat, Indonesia berpeluang besar menarik lebih banyak modal asing dan mempercepat transformasi ekonominya menuju era digital yang sesungguhnya.





