avalw news
Bagus PutraBagus PutraVIEW PROFILE →

Indonesia Jadi Tujuan Utama Investasi Data Center: Moratorium Singapura dan Malaysia Alihkan Permintaan ke Batam dan Jakarta

tech2026-08-19 · 3 min read · 1 reads

Laporan JLL menyebut Indonesia kini menjadi pusat destinasi investasi data center di kawasan. Setelah Singapura dan Malaysia menerapkan moratorium, permintaan pembangunan mengalir langsung ke Batam dan Jakarta.

Indonesia semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu tujuan investasi paling menarik di kawasan, khususnya di sektor infrastruktur digital. Sebuah laporan terbaru menempatkan negara ini sebagai magnet baru bagi pembangunan pusat data, atau data center, seiring melonjaknya kebutuhan akan penyimpanan dan pemrosesan data di era kecerdasan buatan.

Indonesia jadi pusat destinasi

Penilaian tersebut disampaikan oleh JLL, sebuah perusahaan jasa properti global, melalui pemaparan pada 18 Agustus 2026. Menurut Farazia Basarah, Country Head sekaligus Head of Logistics and Industrial JLL Indonesia, negara ini kini menjadi pusat destinasi data center. Pernyataan itu menegaskan adanya pergeseran besar yang tengah terjadi di kawasan.

Efek moratorium negara tetangga

Moratorium di Singapura dan Malaysia mengalihkan permintaan pembangunan data center ke Indonesia. (Gambar ilustrasi)
Moratorium di Singapura dan Malaysia mengalihkan permintaan pembangunan data center ke Indonesia. (Gambar ilustrasi)

Salah satu pendorong utama arus investasi ini justru datang dari luar Indonesia. Farazia menjelaskan bahwa negara ini menarik minat karena adanya keterbatasan pengembangan di sejumlah negara tetangga. Kebijakan yang membatasi pembangunan di negara lain secara tidak langsung membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menampung permintaan yang meluap.

Rangkaian pembatasan itu dimulai dari Singapura, yang menerapkan moratorium pembangunan data center akibat tingginya konsumsi listrik. Ketika pintu di Singapura menyempit, ekspansi para investor beralih ke Malaysia, khususnya ke kawasan Johor Bahru, yang untuk sementara menjadi alternatif utama bagi proyek proyek berskala besar di kawasan tersebut.

Namun cerita tidak berhenti di sana. Malaysia pada akhirnya juga memberlakukan moratorium, setelah pembangunan yang masif dinilai mengganggu zona komersial dan permukiman. Dengan tertutupnya dua pintu utama tersebut, permintaan pembangunan data center akhirnya mengalir langsung ke Indonesia, terutama ke wilayah Batam dan Jakarta.

Batam dan Jakarta jadi tumpuan

Batam dan Jakarta muncul sebagai dua titik utama yang menampung gelombang permintaan ini. Batam, dengan kedekatan geografisnya terhadap Singapura, menawarkan lokasi strategis yang sulit ditandingi. Sementara itu, Jakarta sebagai pusat ekonomi dan digital nasional menyediakan ekosistem serta konektivitas yang sangat dibutuhkan oleh industri ini.

Kekuatan pasar domestik

Selain faktor eksternal, Indonesia juga memiliki kekuatan dari dalam. Negara ini dihuni sekitar 290 juta penduduk dengan tingkat penetrasi internet yang mencapai kisaran 81 persen. Kombinasi populasi besar dan konektivitas yang tinggi menciptakan basis permintaan data yang sangat kuat dan terus berkembang pesat dari tahun ke tahun.

Faktor demografi turut memperkuat posisi ini. Populasi Indonesia yang muda dan sangat melek terhadap data serta media sosial menjadi mesin penggerak tersendiri bagi kebutuhan data center. Setiap unggahan, pesan, dan transaksi digital pada akhirnya memerlukan infrastruktur fisik untuk menyimpan dan memproses data tersebut secara aman dan andal.

Dorongan dari kecerdasan buatan

Di atas semua itu, perkembangan kecerdasan buatan menjadi pendorong yang hampir tak terbantahkan. Teknologi AI membutuhkan daya komputasi yang sangat besar, dan pusat data adalah tulang punggung yang menopangnya. Semakin banyak layanan berbasis AI yang bermunculan, semakin besar pula kebutuhan akan kapasitas infrastruktur digital di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Bukan tanpa catatan

Meski peluangnya besar, JLL juga memberikan catatan yang penting. Farazia mengingatkan bahwa data center berbeda dari industri manufaktur dalam hal penyerapan tenaga kerja. Sebuah pabrik mobil dengan luas lahan yang sama, menurutnya, dapat menyerap sekitar 500 sampai 1.000 tenaga kerja, sebuah angka yang tidak mudah ditandingi oleh sebuah pusat data.

Sebaliknya, sebuah data center yang menempati lahan seluas 20 hingga 40 hektare mungkin tidak menyerap banyak tenaga kerja. Hal ini menjadi pengingat bahwa besarnya nilai investasi tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah lapangan kerja yang tercipta. Pemerintah dan pelaku industri perlu mempertimbangkan aspek ini secara cermat dan bijaksana.

Secara keseluruhan, Indonesia kini berdiri di persimpangan peluang yang sangat besar. Pergeseran investasi dari negara tetangga, kekuatan pasar domestik, dan dorongan kecerdasan buatan menempatkan negara ini di garis depan pembangunan infrastruktur digital kawasan. Tantangannya kini adalah memastikan bahwa peluang ini benar benar memberi manfaat luas bagi perekonomian dan masyarakat.

Bagus Putra
WRITTEN BY THE AUTHOR
Bagus Putra
2026-08-19 · 3 min read · 1 reads
View profile →
VERIFY THIS STORY
ASK AI
MORE FROM Bagus Putra
Report this articlesupport@avalw.com