avalw news
Bagus PutraBagus PutraVIEW PROFILE →

Nvidia jamin pendanaan hingga 105 miliar dolar untuk pusat data raksasa OpenAI di Ohio

tech2026-08-19 · 4 min read · 233 reads

Lewat dokumen resmi yang diajukan pada 17 Agustus 2026, Nvidia setuju menjamin pendanaan hingga 105 miliar dolar bagi pusat data baru OpenAI di Ohio, menandai babak baru perlombaan infrastruktur kecerdasan buatan yang kian mahal dan haus listrik.

Raksasa chip Amerika, Nvidia, sepakat menjamin pendanaan hingga 105 miliar dolar AS untuk membangun pusat data baru milik OpenAI di negara bagian Ohio. Kesepakatan itu terungkap lewat dokumen resmi yang diajukan ke otoritas pasar modal Amerika pada Senin, 17 Agustus 2026, dan langsung menjadi salah satu komitmen terbesar dalam sejarah pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan.

Proyek ini akan dibangun dan dioperasikan oleh SB Energy, perusahaan pengembang energi yang didukung oleh konglomerat Jepang, SoftBank. Fasilitas tersebut berlokasi di kompleks teknologi PORTS-Pike di Pike County, Ohio, dan nantinya akan disewa oleh OpenAI untuk menampung sebagian besar kebutuhan komputasi model kecerdasan buatannya.

Selain memberi jaminan pendanaan, Nvidia juga menanamkan modal langsung senilai 1,5 miliar dolar AS ke SB Energy. Dalam skema ini, Nvidia memasok perangkat komputasi sekaligus menopang sebagian pembayaran sewa dan biaya listrik, sementara OpenAI baru mulai membayar ketika kapasitas pusat data benar benar tersedia untuk digunakan.

Bagaimana kesepakatan raksasa ini disusun

Skala proyek ini sangat besar. Menurut laporan yang beredar, pusat data itu akan memiliki kapasitas komputasi awal sekitar 4,25 gigawatt, dengan opsi tambahan hingga 3,75 gigawatt, sehingga totalnya bisa mencapai sekitar 8 gigawatt. Sebagai gambaran kasar, satu gigawatt kira kira setara dengan kebutuhan listrik ratusan ribu rumah tangga sekaligus.

Kapasitas tersebut tidak akan langsung menyala sekaligus. Sekitar 800 megawatt pertama diperkirakan mulai beroperasi pada 2028, lalu sisanya menyusul secara bertahap. OpenAI menyewa fasilitas ini dengan kontrak jangka panjang yang dilaporkan berdurasi 20 tahun, sebuah komitmen yang mengunci kebutuhan komputasi perusahaan untuk waktu yang sangat lama.

Model pembayaran dirancang agar risiko tidak sepenuhnya ditanggung OpenAI sejak awal. Perusahaan rintisan pimpinan Sam Altman itu hanya membayar saat kapasitas siap dipakai, sementara Nvidia menjamin porsi tertentu dari pembayaran sewa dan listrik. Struktur seperti ini memungkinkan proyek tetap berjalan meski OpenAI belum mencetak laba besar dari layanannya.

Perlombaan infrastruktur AI kian memanas

Chip Nvidia menjadi jantung dari ledakan pembangunan pusat data kecerdasan buatan di seluruh dunia. (gambar ilustrasi)
Chip Nvidia menjadi jantung dari ledakan pembangunan pusat data kecerdasan buatan di seluruh dunia. (gambar ilustrasi)

Kesepakatan Ohio ini adalah bagian dari kemitraan yang jauh lebih luas antara Nvidia dan OpenAI, yang sebelumnya digambarkan bernilai sekitar 100 miliar dolar untuk membangun 10 gigawatt kapasitas kecerdasan buatan. Angka jaminan bahkan sempat dibahas hingga 250 miliar dolar sebelum akhirnya diturunkan menjadi di bawah 120 miliar dolar pada awal Agustus 2026.

Pola pendanaan seperti ini juga memicu perdebatan di kalangan analis. Sebab, Nvidia pada dasarnya ikut membiayai pembangunan pusat data yang kelak akan membeli chipnya sendiri, sebuah lingkaran yang oleh sebagian pengamat disebut berpotensi menggelembungkan permintaan secara artifisial. Meski begitu, kedua perusahaan menegaskan bahwa kebutuhan komputasi memang nyata dan terus melonjak.

Bos Nvidia, Jensen Huang, menyebut proyek ini akan mengamankan infrastruktur jangka panjang bagi komputasi Nvidia sehingga OpenAI dapat menjalankan pabrik kecerdasan buatan yang paling produktif. Presiden OpenAI, Greg Brockman, bahkan menggambarkan situasi saat ini dengan menyebut bahwa daya komputasi kini benar benar menjadi minyak baru bagi dunia teknologi.

OpenAI juga mengklaim proyek ini akan menciptakan sekitar 35 ribu lapangan kerja konstruksi selama masa pembangunan, ditambah sekitar 2.500 posisi tetap untuk mengoperasikan fasilitas. SB Energy bersama SoftBank disebut akan membangun sumber daya listrik hingga 10 gigawatt dan menanam setidaknya 4,2 miliar dolar untuk memperkuat jaringan listrik kawasan sekitar.

Gelombang yang sama mendorong Indonesia

Ledakan pembangunan pusat data ini bukan hanya cerita Amerika. Gelombang yang sama tengah mendorong Indonesia, khususnya Batam, yang berambisi menjadi pusat kecerdasan buatan di Asia Tenggara. Perusahaan asal Australia, Firmus Technologies, bersama Nvidia dan operator DayOne asal Singapura tengah menyiapkan kampus pusat data raksasa di pulau industri tersebut.

Kampus di Batam itu direncanakan menampung hingga 170 ribu chip kecerdasan buatan Nvidia dengan kapasitas sekitar 360 megawatt, dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2027. Untuk memasok listriknya, DayOne telah meneken perjanjian pembelian daya terbesar di Indonesia, sebesar sekitar 450 megawatt, dengan PLN Batam pada April 2026 lalu.

Secara keseluruhan, Indonesia disebut tengah menyiapkan investasi pusat data senilai 15 hingga 20 miliar dolar, dengan tambahan kapasitas sekitar 1,3 gigawatt di atas sekitar 580 megawatt yang sudah beroperasi. Ambisi ini mengemuka saat pameran teknologi INTI 2026 dibuka di Jakarta pada 11 Agustus, meski aturan resmi soal kecerdasan buatan di Tanah Air belum juga ditandatangani.

Apa yang akan terjadi selanjutnya

Bagi OpenAI dan Nvidia, tantangan terbesar berikutnya bukan lagi soal dana, melainkan listrik dan waktu. Membangun kapasitas komputasi sebesar itu menuntut pasokan energi yang stabil serta jaringan listrik yang mampu menahan beban, sesuatu yang mendorong investasi miliaran dolar untuk memperkuat infrastruktur kelistrikan di sekitar lokasi proyek.

Bagi Indonesia, perlombaan global ini sekaligus menjadi peluang dan ujian. Masuknya nama besar seperti Nvidia dan DayOne menunjukkan bahwa Batam mulai diperhitungkan di peta infrastruktur kecerdasan buatan dunia. Namun kepastian regulasi, kesiapan energi bersih, dan ketersediaan tenaga kerja terampil akan menentukan apakah ambisi menjadi pusat AI Asia Tenggara benar benar bisa terwujud.

Bagus Putra
WRITTEN BY THE AUTHOR
Bagus Putra
2026-08-19 · 4 min read · 233 reads
View profile →
VERIFY THIS STORY
ASK AI
MORE FROM Bagus Putra
Report this articlesupport@avalw.com